Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2024

Hidup Akan Berakhir!

Kau tahu, ku tak minta dilahirkan juga Ku tahu semua uang ini tak berasa Ku tahu karir ini tak ada artinya Kesuksesanku dipinjamkan sementara Mengejar mimpi sampai tak punya rasa Mengejar mimpi sampai lupa keluarga Mengejar mimpi lupa dunia nyata Mengejar mimpi tapi tidak bersama Padahal katanya uang takkan kemana Jika memang rezeki ya 'kan ditransfer juga Namun dikejar terus seakan satwa langka Di prosesnya melintah lupa jadi manusia Terlepas apa yang engkau percayai Tetap takkan ada yang dibawa mati Kembali ke tanah dan tumbuh cemara Mana saja harta yang lebih berharga Karena tak ada lagi yang kucari di sini Mimpi menjadi besar tak menggiurkan lagi Anganku hanya sampai sejauh tanah sendiri Hanya ingin mengeluh tak bisa bijak lagi Ku sekarang bernafas tanpa tujuan jelas Tanah terbuka dan bumi menganga Melihatnya kau sadar uang hanya sementara Lihat petimu dibalut duka dan lara Dan beberapa berharap kau masuk neraka !

Tari Dan Selendangnya.

Gambar
Senja di ujung kelopak Gemuruh ombak dan hembusan angin Senyum tawa yang terpancar  Matahari perlahan menghilang tenggelam Siluet menggambar jelas lekuk tubuh indah  Senyuman dan tatapan yang masih sama Mengembalikan memori tentang tarian itu Tentang selendang yang kau kenakan Pulau-pulau terlihat di kejauhan Anjing putih berjalan di tepian  Kau mulai menjauh dalam hamparan samudra Kau sebab rindu itu diam-diam!

Waktu.

Gambar
Sunyi malam tanpa hembusan angin Awan terdiam seolah tak bergerak Keheningan meniduri setiap kata Remang sinar rembulan di langit Merona di kegelapan tanpa bahasa Tenggelam di relung rahasia Alam seketika berhenti bergerak Tak ada kuasa hilang tanpa cahaya Samar terdengar suara gemuruh  Tulisan resah malam ketidak pastian Menyelam didalam gelap yang pekat Hujan adalah doa yang menetes

Ruang Tunggu

Gambar
Selatan Jakarta. Mcd malam kala itu menjadi tempat di mulai segalanya, Menyusuri jalan gelap,Depok dengan sapaan dan senyumannya Bioskop,pink abu berpelukan terekam kamera dari belakang Kursi kayu nenek,daster dan aku yang terdiam melihatnya Malam kemang dengan sebuah pelukan,bukan aku Pagi menunggu dengan perdebatan kala itu. Ah sial jam 06.00 di rumah nenek,cepat sekali ! Dua bayang beriringan penuh tanya dan ragu.